Senin, 06 Mei 2013

Islam Memuliakanmu Wahai Wanita
Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah-

Sebuah hembusan syubhat dan tuduhan kosong yang datang dari arah orang-orang kafir dan munafik serta orang-orang yang tertipu dengan mereka bahwa Islam merendahkan martabat wanita, memperbudaknya, menghinakan, menekannya, menzhaliminya, mengungkungnya, serta berbagai macam tuduhan keji lainnya.
Tuduhan keji ini tiada gunanya. Ia hanyalah angin lalu dan lalat busuk yang akan pergi sendiri setelah nyatanya kebenaran!!
Islam adalah agama yang datang dari Allah Sang Pencipta yang mengetahui segala seluk-beluk makhluk ciptaannya serta segala hajat dan kemaslahatan mereka. Dialah yang mengatur posisi dan kedudukan makhluknya, termasuk kedudukan wanita dan lelaki. Allah telah menempatkan mereka dengan penempatan yang adil dan bijak, bukan curang dan khianat!!
Jika ingin melakukan studi secara seksama dari lembaran-lemabran Al-Qur’an, maka kita akan mendapati pengaturan maha hebat dalam memuliakan kaum wanita. Sehingga haram hukumnya seorang muslim menuduh bahwa Islam telah menzhalimi wanita. Bahkan para wanita belum pernah dimuliakan dalam sejarah bangsa kafir sebagaimana ia dimuliakan oleh Islam.
Lihat saja –sebagai contoh- Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memerintahkan kaum lelaki selaku suami agar memperlakukan wanita dengan cara yang ma’ruf.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آَتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا  [النساء/19]
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menghalangi mereka (dari menikahi orang lain setelah menalaknya), karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[1]. Dan Pergaulilah mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS. An-Nisaa’ : 19)
Menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. Janda tersebut boleh dikawini sendiri oleh si anak atau dikawinkan dengan orang lain, tapi maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi. [Lihat Fathul Qodir (2/106) karya Al-Imam Asy-Syaukaniy]
Islam datang menghapuskan aturan jahiliah yang merendahkan dan menyusahkan para wanita. Sebab para wanita, mereka sejajarkan dengan barang (benda) warisan atau mirip budak. Bahkan para wanita diberikan kebebasan oleh Allah untuk menikahi lelaki usai masa iddah, bila ditinggal mati oleh sang suami atau ditinggal karena talak. Ayat ini melarang suami menahan istri dan membuatnya terkatung-katung sehingga membuat ia terzhalimi. Ayat ini turun sebagai pelajaran bagi kaum lelaki bahwa tidak boleh membuat istri terkatung-katung. Jika memang tidak menyukainya, maka ceraikan dengan cara yang baik. Jangan nanti diceraikan saat ia minta dicerai sehingga terjadi khulu’ (permintaan cerai dari pihak istri). Jika terjadi cerai, maka ia pun harus membayar fidyah.
Islam telah menjaga hak-hak para wanita dan menempatkan mereka pada kedudukan yang amat tinggi, walaupun kaum lelaki tentunya lebih ditinggikan oleh Allah -Azza wa Jalla-. Sehingga sebuah kekeliruan besar jika sebagian orang menuduh Islam telah merendahkan martabat para wanita, mengungkungnya, dan menyepelekannya.
Sakingnya mulianya wanita di dalam Islam, Allah -Azza wa Jalla- mewajibkan para wanita menutupi seluruh badannya dengan jilbab yang syar’iy dan benar, bukan jilbab gaul yang ketat lagi transparan. Apa hikmahnya? Hikmahnya agar para wanita terhormat dan tidak menjadi bulan-bulanan dan permainan bagi para lelaki jahat dan berpenyakit hati.
Allah -Ta’ala- berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا [الأحزاب/59]
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59)
Al-Imam Abu Hayyan Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,
“Kebiasaan kaum jahiliah dulu bahwa wanita dan budak mereka keluar dalam keadaan tampak wajahnya saat menggunakan pakain dan kerudung. Sementara orang-orang yang suka berzina suka menghadang para budak wanita, bila para wanita keluar di waktu malam untuk buang air di sela-sela pohon kurma dan tempat-tempat cekung. Terkadang mereka menghadang para wanita merdeka dengan alasan itu budak seraya berkata, “Kami menyangkanya budak!!”. Maka wanita muslimah pun  (setelah datangnya Islam) diperintahkan untuk membedakan cara berpakaian mereka dengan para budak wanita dengan menggunakan pakaian dan penutup serta menutup kepala dan wajah agar mereka disegani dan tidak lagi diincar. Diriwayatkan bahwa dulu di Kota Madinah ada suatu kaum yang suka duduk di tempat-tempat tinggi demi mengintip para wanita, menghadang dan menggoda mereka. Lalu turunlah ayat ini”. [Lihat Al-Bahr Al-Muhith (7/205), cet. Dar Al-Fikr]
Perhatikanlah keindahan Islam dalam memuliakan para wanita. Semua ini membantah segala tuduhan keji dan opini buruk bahwa Islam merendahkan para wanita.
Para wanita ditutup dan dijaga rapi badannya agar jangan dijadikan komoditi dagang murahan di depan para lelaki hidung belang dan play boy.
Lirik juga pemuliaan Islam terhadap wanita dalam hal pekerjaan. Para lelaki sebagai suami diberi kewajiban mencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya agar Istri tidak keluar rumah sehingga bercampur baur dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya di lapangan kerja. Cukup mereka membantu suami di rumah mendidik anak, mengurusi rumah tangga dan hajat suami yang mampu mereka selesaikan di rumah. Ini bukanlah larangan keluar secara mutlak sebagaimana yang dipahami oleh orang jahil. Boleh mereka keluar dari rumah bila ada hajat yang amat penting, seperti belajar, sholat, berjihad atau perkara lainnya yang dibenarkan oleh agama. Jika tidak ada hajat yang amat penting, maka sebaiknya mereka bersabar di rumah. Sebab keluarnya wanita dari rumah, sering menimbulkan berbagai macam problema sosial. Wanita dengan segala kelembutan dan kemolekannya seringkali menggoda dan menggelincirkan kaum lelaki, baik para wanita sadari atau tidak.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman kepada para wanita,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ [الأحزاب/33]
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya”. (QS. Al-Ahzab : 33)
Jika para wanita bersabar tinggal di rumah membantu pekerjaan orang tua atau suami bila sudah bersuami. Semua ini adalah ibadah dan ketaatan yang akan diberi balasan besar bila para wanita melakukannya karena taat kepada Allah.
Al-Imam Ibnu Asyur Al-Malikiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan perintah tinggal di rumah bagi para wanita, “Ini adalah perkara yang dikhususkan bagi mereka, yakni wajibnya tinggal di rumah mereka sebagai bentuk pemuliaan bagi mereka dan penguat bagi bagi kesucian mereka. Jadi, tinggalnya mereka di rumah-rumah mereka adalah ibadah”. [Lihat At-Tahrir wa At-Tanwir (11/247)]
Adapun sikap kaum kafir terhadap wanita, maka mereka menginginkan agar para wanita keluar dari rumah kemuliaannya, lalu keluar menyaingi kaum lelaki dalam mengerjakan banyak job yang semestinya ditangani kaum lelaki. Di tempat kerja mereka bercampur baur dan saling bermuamalah bebas. Jangan heran bila banyak kerusakan sosial timbul di masyarakat. Semua itu akibat bebasnya wanita bekerja di luar rumah.
Itulah hasil emansipasi barat yang melanda negeri kita yang tercinta ini. Kini meninggalkan jejak dan bekas buruk di masyarakat Islam –secara khusus- dan seluruh masyarakat –secara umum-. Wallahul musta’an.
Gerakan dan propaganda yang mengeluarkan wanita dari rumahnya, lalu keluar kemana-mana dengan bebas, sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala. Sehingga mereka pun karenanya.
Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan –hafizhahullah- berkata,
“Sikap orang-orang kafir terhadap wanita pada hari ini sama dengan sikap mereka kemarin. Mereka ingin agar para wanita menangani pekerjaan-pekerjaan kaum lelaki yang wanita tidak dicipta untuk itu dan memang mereka tidak punya kesiapan dalam menanganinya. Orang-orang kafir ingin agar para wanita keluar dari kemuliaan dan kesuciannya. Mereka ingin agar wanita terpajang di depan mereka sehingga mereka dapat bersenang-senang dengan para wanita dengan murahan selama wanita itu masih hijau (muda). Namun bila sudah layu (tua), maka akan membuangnya bersama sampah-sampah!! Akhirnya, jatuhlah perhiasan itu (yakni, wanita) sampai ia mati dalam kondisi hina dan rendah”. [Lihat Al-Mar'ah baina Takrim Al-Islam wa Da'aawa At-Tahrir (84-85) karya Muhammad bin Nashir Al-Uroiniy, cet. Mathba'ah Safir, 1420 H]
Para pembaca yang budiman, kemuliaan wanita semakin diangkat dengan pendidikan yang mereka harus kecap sebagaimana halnya lelaki.
Allah -Azza wa Jalla- berfiman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [التحريم/6]
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim : 06)
Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobariy -rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini,
“Ajarilah sebagian orang atas sebagian yang lainnya sesuatu yang dapat kalian gunakan dalam melindungi orang yang kalian ajari dari neraka dan menghalau neraka darinya jika ia menagamalkannya berupa ketaatan kepada Allah dan lakukanlah ketaatan kepada Allah”.[Lihat Jami' Al-Bayan (23/491), cet. Mu'assasah Ar-Risalah]
Kemudian Ath-Thobariy menyebutkan sebuah atsar dari sahabat Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu- bahwa maknanya “…peliharalah…” adalah ajarilah dan didiklah mereka.
Ini menunjukkan bahwa Islam dari dulu sudah mendorong para suami dan penanggung jawab keluarga agar mereka mendidik keluarganya agar mereka selamat di dunia dan akhirat dari neraka.
Ini membungkam mulut para pendusta yang menyatakan bahwa Islam tidak memberikan pendidikan kepada wanita. Sehingga mereka pun secara dusta menyatakan bahwa perempuan harus dientaskan dari keterbelakangan dan kebodohannya. Muncullah istilah emansipasi wanita. Seakan-akan wanita tidak diperhatikan dalam Islam, lalu orang-orang kafir itulah yang memperhatikan para wanita dan memberikan pendidikan kepada kaum wanita!!
Diantara pemuliaan Islam terhadap kaum wanita, Allah menjaga dan menetapkan bagian warisan mereka di dalam Islam. Adapun di zaman jahiliah, maka mereka tidak mendapatkan warisan, bahkan mereka ikut diwarisi. Bagian-bagian mereka telah dijelaskan oleh Allah di awal-awal lembaran Surah An-Nisaa’.
Pembagian yang adil ini datang dari Allah Sang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Di dalamnya tidak ada kecurangan sedikit pun. Allah menetapkan perbedaan bagian bagi setiap manusia berdasarkan hajat dan kemaslahatan mereka menurut ilmu Allah -Azza wa Jalla-.
Kemudian sisi lain yang kadang kurang diperhatikan orang bahwa Allah memerintahkan wanita sebagaimana hal pria agar menundukkan pandangannya dari semua perkara yang haram dilihat demi menjaga dan memuliakan wanita.
Allah -Ta’ala- berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُن [النور : 30 ، 31]
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya”. (QS. An-Nuur : 30-31).
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,
“Ini adalah perintah dari Allah -Ta’ala- bagi para hamba-Nya yang beriman agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka dari sesuatu yang diharamkan bagi mereka. Jadi, janganlah mereka melihat, kecuali kepada sesuatu yang Allah halalkan untuk dilihat oleh mereka. Allah juga perintahkan agar menundukkan pandangan mereka dari perkara-perkara haram (untuk dilihat). Jika kebetulan matanya melihat sesuatu yang diharamkan, tanpa sengaja, maka hendaklah ia memalingkan pandangannya dari hal itu dengan secepatnya”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/41)]
Inilah petunjuk Islam bagi mata para lelaki dan wanita sebagai bentuk penjagaan terhadap syahwat mereka agar tidak terjerumus dalam kehinaan. Mereka harus memalingkan mata dari yang haram –misalnya, wanita bukan mahram-, bila bertemu di jalan. Kalau pun melihatnya karena tidak sengaja, maka segera palingkan mata ke arah lain. Ini sesuai petunjuk dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya.
Dari Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy -radhiyallahu anhu- berkata,
سألت النبي صلى الله عليه وسلم، عن نظرة الفجأة، فأمرني أن أصرفَ بَصَري.
“Aku bertanya kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tentang pandangan spontan (tiba-tiba). Beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2159)]
Semua ini adalah bentuk penjagaan dan pemuliaan kepada wanita dari kubang-kubang kehinaan.
Inilah sebagian dari pemuliaan Islam terhadap wanita. Jika kita ingin menghitungnya satu-persatu, maka perlu waktu yang panjang. Semoga saja suatu saat kami akan angkat lagi sebagiannya pada waktu lain.

sumber: www.almakassari.com

Wasiat-Wasiat Berharga dari Merenungi Nikmat Allah (Tulisan)

Wasiat-Wasiat Berharga dari Merenungi Nikmat Allah
(Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1433 H)https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1484877751224038541#editor/target=post;postID=1691960965454437176


إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْـدُ ..
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Amma Ba’du,
Kaum Muslimin dan Muslimat, Jamaah shalat Id yang berbahagia!
Pada pagi hari yang berbahagia ini, kita semua berkumpul dengan suatu kegembiraan akan karunia dan rahmat Allah, menyaksikan suatu hari yang sangat agung, salah satu simbol Islam yang besar: Hari Idul Fitri.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ
“Bagi tiap-tiap umat, Kami telah menetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan.” [Al-Hajj: 67]
Ibnu ‘Abbâs menafsirkan bahwa setiap umat dijadikan suatu Id untuknya. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarîr Ath-Thabary.
Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka bergembira pada dua hari tersebut pada masa Jahiliyah. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ
“Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari itu untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya: hari Idul Fitri dan hari An-Nahr (Idul Adha).” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasâ`iy]
Oleh karena itu, berbahagialah dengan nikmat hari Idul Fitri ini. Bersyukurlah kepada Allah atas segala karunia yang tidak mungkin kita jumlah dan atas berbagai nikmat yang tiada terhingga dan terbilang.
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu membilangnya.” [Ibrâhîm: 34]

Wahai Umat Islam,
Bersyukur akan nikmat Allah adalah suatu kewajiban yang merupakan lambang penghambaan dan mahligai ‘ubûdiyyah kepada Allah. Allah Ta’âlâ memerintah,
وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan syukurilah nikmat Allah jika kalian menyembah hanya kepada-Nya semata.” [An-Nahl: 114]
Kesyukuran akan nikmat adalah hal yang menambah nikmat dan karunia Allah sebagaimana yang Allah ingatkan dalam firman-Nya,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga) tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian. Namun, jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’.” [Ibrâhîm: 7]
Siapa saja yang bersyukur akan nikmat Allah tidak perlu khawatir terhadap musibah dan siksaan karena Allah telah menjamin sebagaimana dalam firman-Nya,
مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Mengapa Allah akan menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” [An-Nisâ`: 147]

Kaum muslimin dan muslimat,
Pada hari Idul Fitri yang bergelimang nikmat ini, marilah kita merenungi dan mengingat-ingat berbagai nikmat agung, yang dengannya Allah memuliakan kita, sebelum datang suatu hari saat segala nikmat Allah akan dipertanyakan. Allah Ta’âlâ mengingatkan,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian, kalian pasti akan ditanyai pada hari (kiamat) tentang segala kenikmatan (di dunia).” [At-Takâtsur: 8]

Salah satu nikmat-nikmat itu adalah nikmat keislaman dan keimanan. Janganlah sekali-kali mencari pedoman dan tuntunan hidup dari selain Islam karena Allah telah menyempurnakan segala nikmat dalam syariat Islam ini,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, serta telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Al-Mâ`idah: 3]
Pelajari dan renungilah keindahan Islam yang merupakan satu-satunya agama penyelamat di dunia dan di akhirat, serta janganlah sekali-kali mengharap pedoman dan solusi, kecuali dari syariat Islam,
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, sekali-kali tidaklah (agama itu) akan diterima darinya, dan di akhirat dia tergolong sebagai orang-orang yang rugi.” [Âli ‘Imrân: 85]

Di antara nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi Yusuf ‘alaihis salâm mengingatkan,
وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tiadalah kami (para Nabi) patut mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (kepada-Nya).” [Yûsuf: 38]
Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah dengan memurnikan segala ibadah hanya untuk-Nya,
بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Oleh karena itu, hendaklah hanya kepada Allah semata engkau menyembah, dan hendaklah engkau tergolong sebagai orang-orang yang bersyukur.”“ [Az-Zumar: 66]
Ketahuilah, bahwa dalam memurnikan ibadah kepada Allah, terdapat cahaya dalam kehidupan dan jaminan kebahagian di dunia dan akhirat sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya Kami akan memberi kehidupan yang baik kepadanya dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]
Ingatlah, hanya dalam pemurnian ibadah kepada Allah-lah, tercipta keamanan dan ketenangan hidup bagi orang-orang yang ingin terlepas dari belenggu makhluk dan syaithan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm: 82]
Berdoalah hanya kepada Allah!
Mohonlah perlindungan kepada Allah saja!
Tuluskan nadzar dan penyembelihan hanya untuk Allah!
Berharaplah hanya kepada-Nya semata!
Gantungkanlah segala masalah dan gundah gulana kehidupan hanya kepada Allah Yang Mencukupi hamba-Nya,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”“ [Al-An’âm: 162-163]
Berhati-hatilah terhadap perbuatan kesyirikan. Kesyirikan adalah penghancur kenikmatan dan dosa terbesar yang akan mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka. Allah Subhânahu mengingatkan,
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]
Memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah kehancuran terhadap seorang hamba. Allah menegaskan,
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]
Bahkan, keberadaan kesyirikan di tengah manusia adalah ancaman terhadap sebuah negeri dan penduduknya menuju malapetaka dan kebinasaan. Allah mengingatkan,
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا. أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا. وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا.
“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’ Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak.” [Maryam: 88-92]

Kaum Muslimin dan Muslimat, rahimani wa rahimakumullah!
Di antara nikmat Allah yang patut kita syukuri adalah sesuatu yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,
وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan ingatlah (wahai para Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Makkah). Kalian takut bila orang-orang (Makkah) akan menculik kalian maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah), dan Dia menjadikan kalian kuat dengan pertolongan-Nya, serta Dia melimpahkan rezeki kepada kalian berupa yang baik-baik agar kalian bersyukur.” [Al-Anfâl: 26]
Oleh karena itu, Allah memerintah dengan mengingatkan nikmat-Nya itu dalam firman-Nya,
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.
“Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu (pada masa Jahiliyah) kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat Allah; juga kalian telah berada di tepi jurang neraka, tetapi Allah menyelamatkan kalian dari (neraka) itu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” [Âli ‘Imrân: 103]
Agama kita satu, Rabb yang kita sembah hanyalah satu , dan kiblat kita juga satu. Hindarilah segala bentuk perpecahan dan perselisihan, baik berupa kesukuan, kelompok, maupun persekutuan.
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ.
“Dan janganlah kalian tergolong sebagai orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa-apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]

Di antara nikmat Allah kepada manusia adalah adanya sebagian dari mereka yang menjaga sebagian yang lain. Allah Subhanahu mengingatkan,
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ.
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta.” [Al-Baqarah: 251]
Ada dua tonggak pengaman di tengah manusia: pemerintah dan ulama.
Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury berkata, “Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan Sulthan dan Ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby 5/260-261]
Oleh karena itu, hargailah pemimpin dan pemerintah kalian sebagaimana wejangan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا ، أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang membenci sesuatu (yang ada) pada pemimpinnya, hendaknya dia bersabar, karena siapa yang keluar terhadap sulthan sejengkal kemudian dia mati, matinya adalah mati jahiliyah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin ‘Abbâs]
Bukanlah hal terlarang bila memberi nasihat kepada penguasa, tetapi bukan dengan cara ribut-ribut dan keonaran, bukan pula dengan cara berteriak-teriak di jalan dan menzhalimi manusia.
Kewajiban untuk memberi nasihat adalah terhadap orang yang berakal sesuai dengan etika dan ketentuannya. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]
Terhadap pemimpin untuk berlaku lembut terhadap rakyatnya dan menjaga segala kebaikan dan kemashlahatan mereka. Rasulullah mengingatkan,
مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ
“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaganya secara tulus dan maksimal kecuali dia tidak akan mencium baunya sorga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]

Kaum muslimin dan muslimat,
Juga ketahuilah kedudukan para ulama sebagai lentera umat dan pembimbing mereka menuju kepada jalan yang lurus. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Bertanyakanlah kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tiada mengetahui.” [Al-Anbiyâ`: 7]
Rasulullah bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]
Keberadaan rumah tangga yang memberikan kesejukan antara satu dengan lainnya adalah suatu nikmat yang hendaknya dijaga. Hendaknya kepala rumah tangga tidak menelantarkan nikmat Allah dengan membiarkan ada kemungkaran di tengah rumah tangganya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]

Kaum Muslimin dan Muslimat,
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita akan lima nikmat yang banyak dilalaikan. Beliau berpesan dalam sabdanya yang mulia,
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah segera lima perkara sebelum (datang) lima perkara: waktu mudamu sebelum (datang) waktu tuamu, kesehatanmu sebelum (datang) sakitmu, kekayaanmu sebelum (datang) kefakiranmu, waktu luangmu sebelum (datang) waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum (datang) kematianmu.” [Diriwayatkan oleh Al-Hâkim dan selainnya dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullâh]

Wahai Para Pemuda dan Pemudi harapan umat,
Tataplah kehidupan untuk masa depan, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berbekah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan yang Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.
 “Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]

Wahai Kaum Muslimat!
Penghormatan dan penjagaan Islam kepada kaum perempuan adalah suatu nikmat yang sangat agung. Tidak pernah tercatat, dalam sejarah umat manapun, bahwa ada yang melebihi syariat Islam dalam hal pengagungan kepada kaum perempuan. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat mengherankan bahwa banyak kaum muslimat yang berkiblat  kepada perempuan-perempuan kafir yang tidak pernah mengenal makna kehormatan. Allah telah memerintah,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal maka mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzâb: 59]

Kaum Muslimin dan Muslimat,
Pada hari kemarin kita dimuliakan dengan bulan Ramadhan. Tiada terasa waktu terus bergulir, dan hari ini kita telah meninggalkan Ramadhan. Itulah hari-hari kehidupan yang terus berjalan tanpa henti menuju suatu yang pasti: kehidupan akhirat, yang di hadapan Allah kita akan berdiri,
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ.
“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]
Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya akan kembali kepada kita juga,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ.
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, (pahalanya) untuk dirinya sendiri, sedangkan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Fushshilat: 46]

Wahai Umat Islam,
Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita. Siapa saja yang beribadah kepada Allah, menegakkan shalat, puasa, dan zakat, membaca Al-Qur’an, serta amalan kebaikan hanya di bulan Ramadhan, sesungguhnya Ramadhan telah berlalu. Namun, siapa saja yang menegakkan ibadah-ibadah tersebut karena Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Maha Kekal, serta Allah mencintai hamba yang telah menyelesaikan suatu ibadah kemudian menyambung ibadah tersebut dengan ibadah yang lain. Allah memerintah kepada Nabi-Nya,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ.
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) lain, dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya engkau berharap.” [Asy-Syarh: 7-8]
Hiasilah kehidupan dengan ibadah kepada Allah pada segala keadaan dan pada setiap waktu sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya (kebaikan itu) menghapus (kejelekan), serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Dzarr]

Kaum muslimin dan muslimat!
Bersyukurlah kepada Allah akan nikmat ketenangan, keamanan, dan kecukupan.
Pada hari yang berbahagia ini, sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata serta berbagai duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُون إِلّا بِضُعَفَائِكُمْ
“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallahu ‘anhu]
Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia: di Suriah, Myanmar, dan selainnya yang diliputi oleh berbagai kesedihan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu)
Pada hari ini, marilah kita senantiasa menghargai nikmat Allah dengan menggunakan nikmat tersebut dalam hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Janganlah menggunakan nikmat Allah dalam dosa, maksiat, permusuhan, dan memutus silaturahim.
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua di atas segala nikmat dan melindungi kita dari segala musibah dan malapetaka.
Sebagaimana, kita bermohon kepada-Nya agar Dia menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, dan segala amalan shalih, serta menjadikan amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher kita dari api neraka.
Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.

sumber: www.dzulqarnain.net